[NOVEL] Pelangi di Malam Hari-BAB 1

oleh -213 views

[ad_1]

Musim 1 ~ Segores Masa

 

Rindu itu tak akan mati meski dikubur.

Akan selalu hadir tiap detik, sampai kau mau bicara kalau sungguh sedang rindu.

 

xoxoxoxoxo

***

Nilam Pramuditha, entah ramuan apa yang dia konsumsi sampai bisa membuat perempuan itu selalu tenang saat menyelesaikan setiap masalah. Perempuan yang mampu menularkan rasa bahagia ketika berada di dekatnya, juga perempuan yang memiliki berjuta kejutan di setiap pilihannya. Tidak pernah ada kata mengeluh untuk setiap hari yang dilewati, ia tetap begitu anggunnya berdiri di atas pijakan kaki yang terkadang rapuh. Bukankah begitu? tidak ada manusia yang selalu tegar. Yang ada itu, manusia yang selalu pura-pura tegar.

Nila, panggilan biasanya dari teman-temannya. Di sini kisah sederhananya akan diceritakan. Sesederhana ia mencintai sesuatu yang memang layak untuk dicintai.

Tepat pukul 06.45, di hari Rabu.

Cuaca kurang cerah pagi ini. Segerombolan awan hitam menutupi sinar matahari yang serahusnya sudah muncul menyinari semesta. Suara gemuruh mulai bermunculan dan bersahutan dari langit. Di saat seperti ini, selalu terselip doa di dalam hati Nila agar Tuhan menurunkan hujannya, walau hanya seember jika ditadahkan di bawahnya, Nila akan sangat bersyukur.

Tidak seperti perempuan lain, Nila mencintai hujan bukan karena ingin menangis dan meminta ditemani hujan agar tidak ada seorang pun yang tahu tentang air matanya. Tetapi, Nila menyukai hujan karena tetsan air hujan yang menyentuh kulitnya benar-benar menyejukan hati, memudarkan segala penat dan perasaan-perasaan yang tidak baik untuk disimpan di hati. Dalam kamus hidupnya, hujan bukanlah lambang kesedihan ataupun kerinduan, melainkan lambang kebahagiaan dan sebuah kehidupan.

“La, kamu belum berangkat sekolah?” pertanyaan itu membuat Nila menoleh, menghentikan sejenak kesibukannya pagi ini di dapur. Nila langsung tersenyum melihat perempuan yang sudah cukup tua itu berusaha menghampiri dengan kursi rodanya.

“Semalam Nila lupa masak nasi, Bu” jawab Nila samar-samar terdengar karena beradu dengan suara siul burung di depan Rumahnya, lalu memasukan beras yang sudah dicuci kedalam Magiccom. Nila bukan orang yang pelupa, jika ia melupakan hal yang sudah menjadi rutinitasnya berarti ada yang tidak beres. Entah kenapa, semalam terlalu banyak hal yang membuat kepalanya sakit, dan Nila memiliih untuk tidur lebih awal agar rasa sakit itu tidak terasa lagi di esok pagi.

“Seharusnya kamu berangkat Sekolah saja, La” kata perempuan itu.

“Kalau Nila nggak masak nasi, nanti Ibu makan pakai apa?” Nila sangat mengkhawatirkan keadaan Dinda, Ibu Tirinya. Sejak 2 hari yang lalu ia terus menggeluh jika kepalanya sangat pusing, Nila sudah mengajaknya ke Dokter untuk periksa kesehatan, tapi Dinda selalu saja menolak dengan beragam alasan. Apa boleh buat, Nila tak mau memaksa karena pasti tidak nyaman melakukan sesuatu jika karena terpaksa.

“Ibu bisa masak sendiri kok,”

“Enggak apa-apa, Bu.”

Dulu Nila terlahir dari keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Ibu kandung Nila meninggal dunia karena penyakit kanker usus yang diderita ketika usia Nila belum genap lima tahun. Kehilangan permata pertama di hidupnya membuat Nila selalu merasa tak pantas lagi bersinar seperti teman-temannya, ia selalu sedih karena tidak ada lagi perempuan yang dapat disanjung-sanjung olehnya ketika bercerita dengan temanya.

Setelah bertahun-tahun Nila merindukan sosok seorang Ibu, keluarganya kembali lengkap saat ayahnya memutuskan untuk menikah dengan Dinda. Keluarganya kembali terasa hangat, begitupula dengan kasih sayang dicurahkan untuk Nila, semua terasa sangat membahagiakan.

Sudah bertahun tahun menikah, Dinda belum juga bisa memberikan adik untuk Nila. Dokter menyatakan kalau Dinda tidak bisa memiliki keturunan karena suatu hal yang dulu belum Nila mengerti. Menyedihkan, Dinda mengerutuki dirinya sendiri, kesal karena dirinya sendiri. Ia sungguh merasa dirinya bukanlah seorang perempuan yang utuh jika belum bisa memiliki keturunan.

Sebagai suami, Firman terus menguatkan dan terus mengingatkan Dinda kalau tidak ada yang tidak mungkin saat Tuhan sudah berhendak, sesulit apapun hal itu. Ketika nanti sudah saatnya mereka diizinkan oleh Tuhan dititipkan malaikat kecil yang lucu, pasti anak itu akan hadir dengan mudahnya dan tanpa diduga duga pula jalannya.

Dinda mulai kembali tersenyum setelah Firman meningatkan bahwa Nila kini adalah anaknya juga, walaupun tak lahir dari rahimnya. Nila selalu bilang kalau dia menganggap Dinda sebagai hadiah dari Tuhan yang sangat indah. Ia berjanji akan mencintainya sampai mati.

Ternyata Tuhan tak menuliskan kebahagiaan itu lama, sampai pada sebuah kecelakaan tragis menimpa keluarga kecilnya, 5 tahun lalu. Kecelakaan itu merenggut nyawa Firman dan calon Adiknya yang masih 5 bulan di kandungan Dinda. Gadis kecil mana yang tak tergunjang kejiwaanya melewati setiap cerita kehilangan yang menyakitkan seperti ini?

Setelah ditimpa musibah yang sebegitu beratnya, Nila masih bisa bersyukur karena dia dan Ibu tirinya yang baik hati bak Ibu Peri masih bisa diselamatkan dari maut, meskipun sekarang Dinda sudah tidak bisa berjalan dengan sempurna lagi.

Sekarang, Nila dan Dinda tinggal di sebuah rumah kecil yang berada tak jauh dari pusat Kota Solo. Saat ini, hidup mereka benar-benar hanya bertumpu pada penghasilan Ibunya sebagai penjahit baju, yang tak pernah tentu upahnya. Beruntung, biaya sekolah Nila keseluruhan dibiayai penuh oleh beasiswa, karena kepandaian Nila yang selalu berhasil menempatkanya di peringkat pertama di Sekolah. Nila bukan anak yang boros dan suka menghabisakn uang untuk hal hal yang tidak penting, jadi semua sisa uang jajannya bisa digunakan untuk membantu Dinda memenuhi kebutuhan sehari hari.

Dengan segala kelincahannya di dapur, tak lebih dari 10 menit sarapan untuk Dinda siap, Nila segera menghampirinya seraya mengikat rambutnya seperti buntut kuda. Dinda sedang duduk di ruang tamu mengamati kegiatan di jalanan depan rumahnya, melihati beberapa siswa berseragam sekolah lewat sambil sesekali ia mengkhawatirkan Nila jika nanti terlambat masuk Sekolah.

“Kalau masih pusing diminum obatnya, Bu. Kemarin Nila sudah beli di apotek, ada di kotak obat, ya” lanjut Nila. Dinda menganngguk dan menatap Nila penuh dengan rasa sayang tak terhingga, ia selalu bersyukur karena Tuhan sudah mempertemukan dia dan Nila sebagai keluarga. Kini yang dapat mereka lakukan adalah menguatkan satu sama lain, berjuang, dan tetap kuat menajalani kisah hidup yang sebelumnya tak ada dalam bayangan mereka. Nila semakin tumbuh dewasa, terkadang Dinda takut Nila akan meninggalkan dia sendiri, meski Dinda tahu, Nila tidak akan melakukan itu.

“Terima kasih ya, La” ucap Dinda dengan suara berat sambil menggelus kepala Nila.

“Kalau gitu Nila berangkat sekolah, ya. Sudah hampir telat,” ia melirik jam dinding yang terus berputar ke kanan.

“Nggak dijemput?” Tanya Dinda menegnai kekasih Nila.

“Enggak, Bu. Dia sudah ada janji datang lebih awal sama temannya.”

***

Masih dengan kaki yang ragu dan tangan yang terus bergetar, Tasya akhirnya berhasil memberanikan diri keluar dari rumahnya. Dengan pakaian yang seadanya dan mata yang penuh ketakutan. Seharusnya rasa takut ini sudah tidak ada! Ini bukan di Jakarta lagi Sya, ini di Solo!. Tasya mengutuki dirinya sendiri. Ia memberanikan diri untuk berjalan di tengah keramaian Kota Solo, untuk mencari dan membawa pulang rasa kepercayaan dan jati dirinya yang sudah dilenyapkan oleh Kota Metropolitan yang kejam itu.

Suara derap langkah dari sesama pejalan kaki masih membuat Tasya berkedik ngeri, dunia benar-benar semenakutkan itu untuk Tasya. Tatapan matanya kosong penuh ketakutan, menatap seperti semua orang di sekelilingnya adalah penjahat. Bisa sya, lo pasti bisa!

Setelah cukup jauh berjalan dari rumahnya, kaki Tasya perlahan berhenti, matanya menatap sebuah toko bunga yang ada di hadapnnya. Kepalanya kembali memutar kenangan demi kenangan bersama kekasihnya, hatinya terasa diremas oleh kenyataan yang sekarang membuatnya menetaskan sebulir air mata. Tasya cepat menghapusnya dan melangkahkan kakinya masuk ke Toko Bunga itu.

Tasya berputar melihat-lihat beragam bunga yang tumbuh dengan cantik di sana, sesampai ia mendapati bunga mawar merah, bunga yang sering kali dibawa oleh kekasihnya saat menemui dirinya.

Bunga mawar itu masih segar, masih menyatu dengan akarnya yang membuat bunga itu tetap tumbuh mencantik menjadi sorotan di Toko ini. Tasya mencoba menyentuh tangkai yang hijau itu, tiba tiba ada tangan orang lain juga yang ingin menyentuh tangkai bunga mawar itu.

“Aww,” Rintih Tasya yang menjadi kata yang pertama keluar dari mulutnya hari ini. Tasya tersentak kaget, dan cepat menarik tangannya yang sekarang berdarah karena tertusuk duri bunga mawar itu.

Sorry, sorry”, kata pemilik tangan yang mengagetkan Tasya.

Sorry banget, saya nggak sengaja, Mbak,” katanya lagi.

Tasya mengangkat wajahnya. Permintaan maaf itu berasal dari laki laki berseragam putih abu-abu yang Tasya rasa masih seumuran denganya.

“Sudah, nggak papa,” jawab Tasya. Anak laki laki itu menatapnya tak enak hati.

Tasya memanggil penjaga toko dan memintanya membungkus beberapa bunga mawar itu untuk dirinya. Ketika buket bunga mawar itu selesai dibuat, Tasya membayarnya dan keluar dari sana. Sesekali menoleh memperhatikan anak laki-laki berseragam SMA yang masih di dalam yang sepertinya juga membeli setangkai bunga mawar. Mungkin kembali bersekolah menjadi jalan terbaik Tasya untuk menutupi dan melupakan masa masa yang buruk itu, masa yang mungkin menjadi neraka di dunia bagi Tasya.

Tasya menghentikan sebuah taksi dan memintanya pergi kesebuah tempat di selatan Kota Solo. Ia sangat ingin bertemu Rendy, beruntung sekarang ia tinggal di satu kota lagi dengan Rendy, setelah sempat tinggal di kota yang sama sebelumnya, Jakarta.

Taxi itu berhenti di sebuah Pemakaman Umum, dimana tempat Rendy tinggal dengan nyaman sekarang. Dengan setengah hati yang tersisa untuk kuat dan bertahan, Tasya berjalan mendekati gundukan tanah yang tertancap batu nisan milik Rendy Parabhuan.

Tasya menaruh serangkaian bunga mawar itu di sana, ia harus tetap tersenyum meski rasanya sangat menyakitkan, seperti apa yang dikatakan Rendy sebelum ia pergi untuk selama-lamanya.

“Hai, Rend.” Suaranya terdengar sangat rapuh.

“Nih, gue bawain bunga buat lo,” Tasya mengusap-usap nisan berwarna putih itu.

“Lucu ya, Rend, jadi gantian gini. Biasanya, kan lo yang bawain bunga buat gue.” Tasya tertawa kecil, mentertawakan takdir yang harus memisahkan mereka, takdir yang harus memisahkan Tasya dengan orang baik seperti Rendy.

Tidak ada lagi hari yang menjadikannya semangat untuk bernapas di atas Bumi ini, ia juga tak tahu apa yang seharusnya lakukan. Semua yang ia ingat hanyalah Rendy dan malam itu.

“Hari ini gue ke sini sendiri Rend, sekarang gue udah sedikit berani,” kata Tasya lalu memukul nisan Rendy.

“Iya, baru sedikit. Lo ngga usah ketawa gitu.” Begitu kebiasaan Rendy, tertawa jika pencapaian Tasya belum maksimal. Terlihat meremahkan dan jahat memang, tapi justru membuat Tasya lebih semangat untuk mencapainya lebih.

“Tadi pas beli bunga ini, ada cowok yang seleranya sama kayak lo, Rend. Dia pake seragam SMA rapih terus pergi ke toko bunga dan milih bunga mawar juga. Gila, kalo di liat-liat mirip banget sama lo.” Tasya menuntaskan ceritanya.

“Menurut lo, gue harus masuk sekolah lagi nggak, Rend?” Sunyi, tak ada jawaban.

Hari sudah semakin siang, cukup rasanya bertemu Rendy hari ini, Tasya lalu memilih langsung pulang ke rumahnya. Ia yakin orang tuanya sedang khawatir, ia pergi tanpa pamit dengan kondisi mental yang bisa dibilang kurang stabil.

Tasya kembali ke rumahnya, rumah yang sengaja ia pilih 3 bulan lalu agar tidak berada jauh dari Rendy. Memang begitulah mereka, tak ingin dipisahkan meski sudah waktunya berpisah, meski dunianya kini sudah berbeda.

Benar saja, ada raut wajah yang tengang menunggu kepulangan Tasya di rumahnya, tapi tak lama kemudian raut wajah mereka berubah tenang, karena melihat putri semata wayangnya ada di depan mata, kini sudah pulang dengan selamat.

Ia memeluk Tasya erat, rasa khawatir itu sudah mulai luntur. Tasya diam, masih tanpa ekspresi seperti setelah kejadian malam itu. 

Tasya melepas pelukan itu, lalu tersenyum dan berkata.

“Mah, Pah, aku mau pergi sekolah lagi.”

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

[ad_2]

Sumber: Berita ini telah tayang di situs idntimes.com, klik link disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.